Jumaat, 1 April 2016

Kisah Benar, Suami Kaki Facebook Sila Baca Ini Sebelum Terlambat.

Saya terlanggar dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Dia juga berkata, “maafkan saya juga.” Orang itu dan saya bertegur sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain apabila sampai di rumah. Pada hari itu juga, ketika saya sedang menelefon salah satu rakan sekerja terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih/melobi simpati rakan saya itu, tiba-tiba anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. Ketika saya hendak berpusing,

Hampir saja membuatnya jatuh. “Pergi!!! Main sana, ganggu saja!!!” teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Ketika saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus Malaikat berbisik. “Tuhan menyuruh Aku mencabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang. Namun sebelumnya, Tuhan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Akan tetapi dengan anak sendiri, engkau perlakukan kasar, akan ku perlihatkan engkau setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan majikanmu, kawan rapatmu, sahabat dunia mayamu serta keadaan keluargamu”.

Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yang datang, selebihnya hanya mendoakan di dalam group, bahkan ada juga yang tidak memberi komen apa apa pun atas kepergianku dan ada juga yang hanya menulis, ‘Al­Fatihah’ ada yang ‘RIP’.

Kawan sekerja aku datang, Sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asyik mengambil gambar dan bercerita. Bahkan ada yang asyik membicarakan aibku sambil tersenyum-tersenyum. Bos yang aku hormati, hanya datang sebentar melihat jenazahku dalam beberapa minit lalu pulang dan kawan-kawan rapatku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.

Kemudian aku lihat anak-­anakku menangis di pangkuan isteriku, yang kecil berusaha menggapai jenazahku meminta aku bangun, namun isteriku menghalangnya. Isteriku pengsan berkali­-kali, aku tidak pernah melihat dia sebingung demikian. Lalu aku teringat betapa sering aku acuh tak acuh dengan panggilannya yang mengajakku berbual, aku selalu sibuk dengan handphone aku, dengan kawan-kawan dan teman-teman dunia mayaku. Lalu aku lihat anak-anakku sering aku herdik & aku bentak mereka saat aku sedang asyik dengan handphone aku, di saat mereka minta perhatian dariku. Oh Tuhan….Maafkan aku.


Lalu aku melihat 7 hari selepas kematianku. Teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak lagi mendengar doa mereka untukku. Pihak office menggantiku dangan staf lain, teman-teman dunia mayaku masih sibuk dengan perbualan di group, tanpa ada yang berbicara tentangku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di group mereka.

Namun, aku melihat isteriku masih pucat dan menangis, air matanya selalu menitis saat anak-anakku bertanya di mana papa mereka? Aku melihat dia begitu longlai dan pucat, ke mana semangatmu isteriku? Oh Tuhan maafkan aku…. Hari ke 40 sejak aku tiada, teman-teman Facebook aku lenyap secara drastik, semua sudah memutuskan hubungan dengan aku, seolah tidak ingin lagi melihat kenangan aku semasa hidup. Bos aku dan teman-teman sekerja, tidak ada satu pun yang mengunjungi kubur aku atau pun sekadar mengirimkan doa.

Lalu kulihat keluarga aku, isteri aku sudah boleh tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak-anak kecil aku masih asyik bertanya bila papa pulang. Anakku yang paling kecil adalah yang paling aku sayang, masih selalu menunggu aku dijendela, menantikan kepulangan aku.

15 tahun berlalu. aku lihat isteriku menyiapkan makanan untuk anak-anak aku, sudah mulai kelihatan kedutan tua dan lelah di wajahnya. Dia tidak pernah lupa mengingatkan anak-anak bahwa hari ini hari Jumaat, jangan lupa solat.

Lalu aku membaca tulisan di atas secebis kertas milik anak perempuan aku malam semalam, dia menulis…. “Seandainya aku masih punya papa, pasti tidak akan ada lelaki-lelaki yang berani tidak sopan dengan aku dan aku tidak melihat mama sakit mencari nafkah seorang diri buat kami. Oh Tuhan…. Kenapa Kau ambil papa aku, aku perlu papa aku Ya Allah..” kertas itu basah karena titisan airmatanya..Ya Allah maafkanlah aku…. Sampai bertahun-tahun anak-anak dan isteriku pun masih terus mendoakan aku agar aku sentiasa berbahagia di akhirat sana. Kemudian, aku terbangun….. Oh Tuhan syukur… Ternyata aku cuma bermimpi…

Perlahan lahan aku pergi ke kamar anak aku dan berlutut dekat tempat tidurnya. Aku masih lihat airmata di sudut matanya, kasihan, terlalu keras aku mengherdik mereka… “Anak aku, papa sangat menyesal karena telah berlaku kasar pada kamuu. “Anakku, aku mencintaimu… aku benar-­benar mencintaimu, maafkan papa anakku”. aKu peluk anak aku, ku cium pipi dan keningnya. Lalu kulihat isteriku yang sedang tertidur, isteriku yang sapaannya sering aku tak hirau ajakannya untuk berbicara. Sering kali aku sengaja berpura-pura tidak mendengarnya, bahkan pesan-pesan darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku isteriku, maafkan aku.Air mataku tak dapat aku bendung lagi.

Apakah kita menyedari bahwa jika kita mati esok pagi, jabatan di mana kita bekerja akan mudah mencari pengganti kita. kawan-kawan akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, malah ada kawan-kawan kita yang masih menceritakan kelemahan yang tidak sengaja kita lakukan. kawan-kawan dunia maya pun tak pernah membicara lagi, seolah-oleh aku tidak pernah wujud dalam group mereka.

Lalu aku rebahkan diri di samping isteriku, handphone aku masih terus bergetar, berpuluh-puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak.. tidak.. Aku matikan handphone aku dan aku pejamkan mata.


Maaf….Bukan kalian yang akan membawaku ke syurga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi keluargaku….Keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
loading...